Rumah Cerdas di Kampung Maya

Rumah Cerdas di Kampung Maya

Rumah cerdas (smart house) canggih bak di film fiksi ilmiah Hollywood, kini tidak hanya bisa dimiliki oleh Bill Gates atau Steve Jobs. Anda pun bisa, asal punya uang. Inilah contoh rumah-rumah berteknologi tinggi.

Teknologi canggih menawarkan dua pilihan ekstrem bagi manusia: membuat kita malas atau makin kreatif. Sejak menempati rumah barunya November lalu, Chung Sung Young belum pernah melangkahkan kakinya lagi ke toko kelontong langganannya. Ibu rumah tangga berumur 39 tahun, itu tinggal bersama keluarganya di rumah susun (rusun) khusus seluas 146 meter persegi seharga US$ 215 ribu di kota Seoul. Kompleks rusun itu merupakan satu dari 16 perkampungan maya (Cyber Village) yang konon berteknologi melesat paling jauh di muka bumi.�

“Belanja jadi gampaaang�!” ujar Chung sambil memegang sebuah webpad-perangkat Internet jinjing mirip layar komputer laptop yang terpisah dari papan ketiknya. Chung terampil memesan bahan makanan di Hanaro Mart, pasar swalayan online terbesar Korea Selatan. Dua kali sehari Hanaro Mart mengantarkan pesanan keluarga itu – tanpa biaya tambahan – ke rumah mereka. Layanan mudah: hanya dengan satu sentuhan panel yang ada di muka webpad, segala kebutuhan bisa segera tersedia. Chung mengatakan, bahkan suaminya membawa alat itu ke kamar mandi untuk membaca berita-berita online, sementara anak-anaknya terhubung ke jalamaya (Internet) di mana pun mereka berada di perkampungan rusun maya itu.

Rusun milik Chung itu merupakan contoh rumah dengan jaringan canggih atau networked home. Anda pasti pernah mendengar konsep rumah ini, seperti Xanadu, tempat tinggal Bill Gates. Rumah tinggal semacam itu dikonsep memiliki lemari es yang bisa memesan makanan secara otomatis begitu persediaannya habis. Ada oven gelombang mikro yang bisa men-download resep-resep dari situs-situs di jalamaya; serta berbagai perangkat canggih lainnya. Dan, itu bukan hanya ada di dalam film-film fiksi ilmiah.�

Menurut Asiaweek edisi Summer 2001, di Korea Selatan kini sudah terdapat 10 ribu rusun cerdas yang dihuni keluarga-keluarga normal. Rusun seperti itu, setidaknya telah menawarkan awal dari lingkungan saling terhubung (connected environment). Mulai Agustus nanti, sebuah jaringan fiber-optic kecepatan tinggi akan membuat “lingkungan terhubung” itu lebih dahsyat lagi. Sebagai contoh, penduduk “kampung cyber” dapat membuka kunci rumah dengan ponsel untuk anak-anaknya yang baru pulang sekolah, atau mengaktifkan pendingin udara di kamar tidur dari tempat kerja, sesaat sebelum pulang kantor.

Rumah cerdas masa depan memang telah datang. Dan, Asia-lah perintis jalannya. Para analis mengatakan lingkungan terhubung itu akan segera menyebar di Asia, karena banyak hal penting yang sudah berada di tempatnya. Hal penting itu termasuk konsumen yang sudah tanggap teknologi; sejumlah besar produsen alat berteknologi tinggi yang tak sabar membuat peralatan jalamaya siap-pakai; sejumlah rusun yang mudah dipasangi kabel-kabel pita lebar (broadband) berkapasitas besar; dan pemerintahan yang proaktif. Di negara yang sangat obsesif dengan jalamaya seperti Korea Selatan, bahkan Kementerian Pembangunan (Construction Ministry)-nya pada Mei lalu mengeluarkan regulasi yang mengharuskan semua rusun baru diperangkati akses jalamaya kecepatan tinggi. Demikian pula Hongkong. Pemerintahnya merekayasa ulang tata kotanya agar kabel broadband bisa tersedia. Di Singapura beberapa keluarga telah terpilih untuk hidup di rusun cyber yang disponsori pemerintah.

Walau rumah canggih itu masih dalam tahap awal, pertumbuhannya yang cepat tak disangsikan lagi. Grup riset yang bermarkas di Arizona – Cahners In-Stat – meramalkan penjualan bagi perangkat cerdas itu akan melewati 20 juta unit pada 2005. “Hal-hal ajaib pada saat ini bisa cepat menjadi biasa pada hari esok,” ujar Akira Kadota, juru bicara Matsushita Electric Industrial – perusahaan yang berada di balik merek Panasonic. Kata-katanya itu bukannya tak berdasar. Ambil saja contoh, compact disc (cakram ringkas), ponsel, atau jalamaya.

Kini banyak perangkat rumah yang sudah mendukung jalamaya dijual di pasaran. Dengan alat-alat itu Anda bisa nyicil untuk “mencerdaskan” rumah Anda, tentunya istilah “ada harga ada barang” berlaku di sini. Di Korea Selatan, LG Electronic menjual lemari es (US$ 8 ribu), mesin cuci, pendingin udara, oven gelombang mikro, dan televisi dinding – bisa digantung – yang semuanya mendukung akses jalamaya.�

Rivalnya, Samsung Electronics, juga membuat lemari es semacam itu serta IZZI webpad, seperti yang dipakai keluarga Chung di perkampungan Cyber Village. Di Taiwan, Sampo Corp., meluncurkan serangkaian perangkat – termasuk AC, kipas angin, dehumidifier, sensor gerak, detektor kebakaran – yang selain bisa mengakses dunia maya, juga bisa berkomunikasi satu sama lain! Bayangkan!�

Di Jepang, pabriknya barang elektronik berteknologi tinggi, Matsushita, bahkan telah mendemonstrasikan sebuah toilet yang bisa memonitor kesehatan penggunanya, lalu mengirimkan informasi kesehatan tersebut ke dokter yang bersangkutan. Sementara Sony sibuk meng-upgrade AIBO, si robot anjing, untuk bisa menggonggong saat Anda mendapat surel terbaru.

Sebuah rumah tentu tidak akan bisa secerdas itu tanpa sekumpulan unsur-bagian yang saling berhubungan. Kecerdasan itu berasal dari integrasi sempurna berbagai perangkat dalam suatu jaringan di dalam rumah itu sendiri. Jaringan itu bisa berbasis saluran telepon, kabel-kabel, saluran nirkabel, atau hibrida dari semuanya. Sebagai contoh, lemari es cyber Anda akan mengirimkan surel ketika susu di lemari es di rumah Anda telah kadaluwarsa. Dengan begitu Anda bisa membeli yang baru saat pulang kerja. Karena menyala sepanjang hari, banyak orang berpikir lemari es amat cocok sebagai server komputer jaringan rumah cerdas.

Dengan prinsip kerja seperti itu, mesin cuci dan oven Internet bisa men-download informasi aktual yang berguna dari pabriknya. Bila bel pintu berbunyi saat Anda menonton film on-demand pada pesawat TV interaktif, gambar video tamu segera muncul pada webpad Anda. Gambar langsung yang dihasilkan kamera webcam itu membuat Anda tak perlu bingung berteriak atau berdiri untuk membukakan pintu untuk sang tamu. Satu tekan pada ikon “open” pada webpad itu akan membukakan pintu rumah Anda secara otomatis. Atau Anda diamkan saja bila si tamu ternyata tak Anda kehendaki.

Anda juga bisa menyusun program untuk seluruh rumah, seperti menyalakan lampu saat mulai gelap, membuka tirai jendela saat matahari mulai bersinar, atau mengatur temperatur udara secara otomatis. Asyik memang. Tapi perhatikan berat badan Anda! Sebab, Anda akan menjadi sangat pasif sehingga malas berolahraga.

Rumah yang secara total termodifikasi seperti itu, saat ini lebih dari sekadar konsep. LG mengilustrasikan visinya di file video streaming pada situsnya (www.dreamlg.com). Di Tokyo, Matsushita telah membuka sebuah rumah demo yang diberi nama eHII. Rumah demo itu penuh peralatan super canggih – termasuk sebuah toilet cerdas tadi.�

Di Hongkong, pemerintah dan sebuah tim perekayasa Inggris sedang berusaha membuat paviliun eksibisi berteknologi tinggi bernama INTEGER. Paviliun itu dibangun di jantung kota untuk mempromosikan rumah tek-ti (hi-tech) yang asri. Samsung Electronics melengkapi satu dari dua paviliun itu dengan produk unggulan mereka, yang juga “cerdas.” Saat proyek itu terbuka untuk umum Oktober 2001, panitia akan meminta masukan dari pengunjung atas peralatan yang mereka sukai serta perangkat yang mereka inginkan ada di paviliun tersebut.

Masalah terbesar sekarang adalah: apa orang benar-benar menginginkan sebuah rumah-terpadu (networked home)? Firma-firma perangkat konsumen Asia memberi jawaban positif. Baru-baru ini Sony merombak ulang seluruh strateginya atas dasar pemikiran itu. Sekarang Sony dengan bangga menyebut dirinya sebagai “sebuah perusahaan solusi jaringan broadband personal.”�

LG menghabiskan tiga tahun dan dana hampir US$ 4 juta untuk mengembangkan pendingin udara Internetnya yang diperkenalkan April lalu. Kepada Asiaweek, Lee In Kyu menginformasikan bahwa LG mengalokasikan lebih dari separuh dana riset dan pengembangan mereka untuk produk-produk networked.

Dukungan kuat dari pihak industri atas ide rumah cerdas itu membuat kita tinggal menghitung hari, menunggu saat perangkat Internet menjadi murah bagi setiap orang. Manny Lopez, seorang analis pemasaran dari firma IDC di Hongkong mengatakan bahwa, konsumen belum merasa akrab dengan produk-produk generasi baru. Begitu perangkat keras muncul di toko-toko akhir tahun ini, kesadaran konsumen pun akan mulai meninggi. Begitu pula dengan minat pada networked home. Masa depan seringkali tertunda-tunda datangnya, namun ia tak pernah gagal untuk hadir ke hadapan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: